Kamis, 08 Desember 2016

Menhub Puji Potensi Lombok "Luar Biasa"


Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendukung upaya pengembangan pariwisata NTB dalam sektor transportasi. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, Lombok merupakan salah satu destinasi bersama Candi Borobudur dan Danau Toba yang dikembangkan pemerintah. “Kita lihat potensi Lombok, memang luar biasa. Banyak culture, handicraft yang luar biasa dan potensi alam yang baik sekali. Ditambah masyarakat yang saya rasa cukup terbuka dengan wisatawan yang datang ke sini,” katanya di Bandara Internasional Lombok, Praya, Lombok Tengah, Ahad (30/10).

Ia menilai, sarana transportasi seperti pelabuhan dan bandara di Lombok sudah cukup baik dalam menopang kemajuan pariwisata Lombok. Mantan Dirut Angkasa Pura II itu menyebutkan, Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, sudah cukup baik, namun tetap diperlukan sejumlah pembenahan. “Kita dorong groundbreaking dari Gili Mas sehingga kapasitasnya membesar dan kapasitas dari pelabuhan-pelabuhan yang lebih besar bisa ditampung disana,” ungkapnya.

Budi juga menyoroti adanya pergerakan transportasi yang cukup berlebihan di darat. Berdasarkan informasi dari Pemprov NTB, jumlah pergerakan di darat mencapai 94 persen untuk distribusi logistik antar wilayah di NTB. “Tentu itu tidak sehat, nah bagaimana kita membuat sehat itu, subtitusinya yang paling murah itu adalah laut,” lanjutnya.

Karenanya, Ia mendorong agar sektor laut benar-benar dimanfaatkan untuk mengurangi pergerakan distribusi logistik di darat. Untuk ini, ia meminta, Dirjen Perhubungan Laut Antonius Tonny Budiono melakukan penelitian bagaimana mengkonversikan distribusi dari darat ke laut di Pulau Lombok.

Sementara untuk Bandara Internasional Lombok (BIL), Ia katakan, sudah cukup bagus dalam mendukung pariwisata dan konektivitas antar pulau di NTB. “Bandara sudah bagus,” pungkasnya.

Sumber: samawarea

Rabu, 07 Desember 2016

Ragam Wisata Nusa Tenggara Barat



Perjalanan dinas saya kali ini mengunjungi Pulau yang berpendudukan asli Suku Sasak, yaitu Lombok, Nusa Tenggara Barat. Setibanya di bandara Lombok International Airport - Praya pada pagi hari, saya dan tim dijemput oleh Staff Gubernur NTB, karena memang kebanyakan agenda akan dilaksanakan di Mataram bersama Gubernur Nusa Tenggara Barat DR.KH.M.Zainul Majdi,MA. Agenda dinas saya di Mataram akan berlangsung selama tiga hari dari tanggal 15-17 April 2014.

Sebelum memulai agenda dinas saya keesokan harinya, di hari pertama ini saya menyempatkan diri untuk mengunjungi pusat kerajinan tangan dan oleh-oleh di kota Mataram. Seperti biasa, saya sangat menyukai kain ikat/tenun ikat khas daerah. Kali ini saya membeli kain ikat lombok dengan motif khas rumah sasak yang berasal dari berbagai daerah di Pulau Lombok, yaitu Desa Sukarare, Lombok Tengah dan Kabupaten Praya. Kain-nya ada yang terbuat dari tenun, kain katun dan sutra. Harganya pun beragam, tergantung kualitas kain-nya dari mulai Rp 150,000 per meter hingga jutaan rupiah. Selain kain ikat, saya juga membeli kain motif rang-rang yang sekarang ini lagi digandrungi. Harga di lombok relatif lebih murah daripada di Bali, akan tetapi pilihan ragam motifnya lebih banyak di Bali.

Setelah belanja kain, saya check-in di Sheraton Beach Resort yang berada di kawasan pantai senggigi. Perjalanan dari kota mataram menuju Senggigi menempuh waktu kurang lebih 25 menit dengan suguhan pemandangan alam yang begitu indah. Sesampainya di hotel saya beristirahat sejenak kemudian menyempatkan diri untuk berjalan mengitari taman dan berenang di resort dengan pemandangan pantai yang terlihat begitu indah dari lokasi kolam berenang resort.

Siang hari saya dan tim makan di Resotoran 99. Disini kami mencicipi Ikan bakar dan udang goreng tepung yang begitu nikmat. Di Pulau ini memang khas sekali dengan makanan seafood karena kota-nya dekat sekali dengan laut. Sambil makan, kami didatangi oleh beberapa pedagang mutiara keliling. Ternyata di lombok hampir setiap restoran khas daerah memang terdapat beberapa pedangang mutiara yang menawarkan dagangannya kepada pengunjung yang datang bersantap di restoran. Mereka menjual kalung, cincin, gelang, anting dan aksesoris lain-nya yang terbuat dari mutiara.

Kebanyakan jenis mutiara yang ditawarkan adalah yang terbuat dari kerang yang hidup di air tawar, jadi harganya relatif murah mulai dari Rp 25,000 - Rp 200,000 per aksesoris. Akan tetapi, ada juga yang menjual mutiara yang berasal dari kerang yang hidup di air laut, harganya lumayan mahal yaitu mulai dari Rp 500,000 - Rp 1,000,000 per Mutiara. Yang membeli Mutiara air laut ini akan diberikan Sertifikat untuk menjamin kualitas dan keasliannya. Daerah penghasil Mutiara dengan kualitas yang bagus adalah Sumbawa, Sekotong, Lombok barat, dan Teluk Nare.

Setelah makan siang saya kembali ke hotel untuk rapat bersama tim mengenai agenda dinas di Mataram. Setelah rapat rampung, saya kemudian bersantai sore di Malimbu yang kira-kira berjarak sekitar 20 kilometer dari resort tempat saya menginap. Malimbu merupakan daerah dataran tinggi di lombok dimana kita bisa menyaksikan indahnya pemandangan laut dan bukit-bukit yang mengitari lombok. Disini saya makan jagung bakar dan minum es kelapa muda sambil meyaksikan terbenam-nya matahari. Dari Malimbu juga dapat terlihat tiga pulau yang sangat terkenal di Nusa Tenggara Barat yaitu Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan. Setelah menghabiskan sore di Malimbu saya lalu kembali ke hotel untuk bersantap malam. Kebetulan malam itu ada "Indonesian Night", para tamu disuguhi hidangan prasmanan khas Indonesia dengan ditemani oleh Alunan gamelan dan Tarian Gandrong, tari tradisional suku Sasak.

Keesokan hari-nya agenda dinas saya-pun dimulai. Pagi hari, tim beserta atasan saya bersilaturahim kerumah dinas Gubernur NTB utk sarapan pagi. Uniknya, menu sarapan yang disajikan adalah menu sarapan khas Arab. Ternyata hal ini dikarenakan Gubernur NTB dulu-nya mengambil Gelar Doktor Ahli Tafsir Al-Qur'an di Universitas Kairo, Mesir sehingga makanan yang disajikan seperti thareed, luqaimat, samosa, kari kambing, roti maryam, dan teh susu, Chef-nya pun langsung orang Arab. Setelah itu kami melanjutkan kegiatan di Universitas Mataram dan mengunjungi beberapa stasiun TV dan Radio Lokal untuk talkshow live dan taping.

Malam hari-nya kami diajak oleh staff Gubernur NTB untuk makan malam dan berwisata kuliner di restoran khas di Mataram yaitu Taliwang Raya. Menu khas yang disuguhkan adalah  Ayam pelecingan, kangkung plecingan dan Es kelapa dengan Madu kristal. Rasanya nikmat sekali, sampai saya tambah dua kali. Setelah makan malam kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat. Keesokan hari-nya kami mengunjungi beberapa pesantren yang ada di kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur kemudian malam hari-nya kembali bertolak ke Jakarta.

Sumber: saragihmeryl

Selasa, 06 Desember 2016

Perkembangan Tingkat Hunian Hotel Provinsi Nusa Tenggara Barat bulan Oktober 2016


Abstraksi

TPK Hotel bintang dan non bintang pada Bulan Oktober 2016 masing-masing sebesar 39,50  Persen dan 26,08 persen

Pada bulan Oktober 2016 Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang mengalami peningkatan dibandingkan bulan September 2016. TPK bulan Oktober 2016 tercatat sebesar 39,50 persen, naik 0,06 poin dibandingkan keadaan bulan September 2016 dengan TPK 39,44 persen. Sebaliknya jika dibandingkan dengan TPK bulan Oktober 2015 yang mencapai 56,42 persen, turun 16,92 poin.

Rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel bintang pada bulan Oktober 2016 tercatat 1,66 hari lebih rendah dibandingkan dengan RLM bulan September 2016 yang mencapai 1,67. Demikian halnya jika dibandingkan dengan RLM bulan Oktober 2015 yang mencapai 2,05 hari, terjadi penurunan 0,39 hari.

Jumlah tamu yang menginap pada hotel bintang bulan Oktober 2016 tercatat 71.938 orang, jumlah ini mengalami peningkatan 2,67 persen dibanding tamu bulan September 2016 yang sebanyak 70.064 orang. Jika dibandingkan dengan tamu menginap bulan Oktober 2015 yaitu sebanyak 60.316 orang, mengalami peningkatan sebesar 19,27 persen.

TPK hotel non bintang pada bulan Oktober 2016 tercatat 26,08 persen, turun 0,22 poin dibandingkan dengan TPK bulan September 2016 yang tercatat 26,30 persen. Demikian pula bila dibandingkan dengan TPK bulan Oktober 2015 yang mencapai 26,50 persen, turun 0,42 poin.

Rata-rata lama menginap (RLM) hotel non bintang pada bulan Oktober 2016 mencapai 1,84 hari, naik 0,01  hari dibandingkan bulan September 2016. Sedangkan jika dibandingkan dengan RLM bulan Oktober 2015 yang tercatat 1,70 hari, naik sebesar 0,14 hari.

Sumber: bps
Foto: peta

Senin, 05 Desember 2016

Membingkai Nusantara: Antara Sasak dan Jawa


Ada begitu banyak perbedaan antara Sasak dan Jawa. Misalnya, dari segi bahasa, ragam bahasa Sasak sangatlah banyak macamnya. Ragam macamnya ini, tidak hanya antar Kabupaten tapi juga antar kecamatan atau desa sekalipun yang ada di Lombok. Misalnya, untuk menyebut ngemil di daerah Suralaga menggunaka istilah bekelor. Itu tergolong secara strata bahasa halus, tapi kalau di daerah Selong itu tergolong kasar. Bahkan, pernah sewaktu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Timur mengatakan, ”mbe le kanda?” untuk mengatakan maksud dimana rumah kamu, para pelajar di daerah dusun Labuhan Haji tak mengerti apa maksudnya.

Itu baru yang terjadi di Lombok Timur. Berbeda lagi dengan apa yang terjadi di Lombok Tengah, dan Lombok Utara. Bahkan Lombok Barat sangat jauh perbedaannya. Lombok Timur, secara adat dan sejarah, kuat dengan nuansa Islam-nya, tapi Lombok Barat kental dengan nuansa peninggalan Hindu-Budha nya. Oleh karena itu, jika di Lombok Timur terkenal karena banyak Masjid-nya, Lombok Barat terkenal dengan banyak Pura-nya. Di Lombok Barat, ada blankon khas yang disebut dengan Sapu/ Udeng. Tapi, di Lombok Timur, blankon tersebut tak begitu familiar. Bahkan orang Lombok Timur yang menggunakan Sapu/ Udeng tersebut dianggap bukan orang Lombok Timur. Sehingga, dengan kata lain ragam Sasak di Pulau Lombok sangatlah plural atau heterogen.

Hal di atas sangat berbeda dengan yang ada di Jawa. Di Jawa, orang bisa berlogat Jawa berbeda, secara umum jika sudah berbeda Kabupaten. Misalnya, Jawa-nya Purwekerto terkenal dengan istilah ngapak-ngapak. Tapi, Jawanya di Solo terkenal sangat halus pembawaannya. Berbeda lagi dengan yang ada di Semarang. Misalnya, penyebutan berapa di Jawa bagian utara (Semarang, Kendal, dsb) itu pira. Tapi, di Jawa bagian utara (Yogya, Solo, dsb) itu piro. Meskipun berbeda bentuk blankon Solo dan Yogya, tapi secara umum tak jauh berbeda. Jawa, secara adat, masih cenderung homogen.

Tapi, meskipun berbeda antara Jawa dan Sasak (Lombok), terrnyata di antara keduanya, banyak persamaannya. Selama penulis bertandang lebih dari 2 kali ke sini, penulis mengamati bahwa ada banyak peninggalan Jawa yang masih tersemat di dalam budaya Sasak, atau pun Lombok secara basis geografi. Misalnya, di Lombok Timur banyak nama daerah (desa atau kecamatan) yang mirip dengan nama di Jawa: Surabaya, Wanasaba, Kediri, dan sebagainya. Bahkan Lombok, semakin ke timur, mirip seperti Jawa Timur: semakin banyak pesantrennya.

Di bahasa Sasak pun masih ada pengaruh dari Bahasa Jawa. Misalnya, untuk menyebut berapa, di Jawa menyebut dengan piro. Tapi, di Sasak menyebut dengan pire. Untuk menyebut makan dengan strata yang halus pun sama bahasanya: dahar. Mirip dengan penyebutan sudah, yaitu sampun. Bahkan, untuk menyebut tiga dan tujuh, sama-sama seperti bahasa Jawa: telu dan pitu. Oleh karena itu, di daerah KLU (Kabupaten Lombok Utara) ada istilah Islam wetu telu, untuk menggambarkan cara beragama Islam masyarakat setempat dalam tiga waktu. Pun halnya dengan Budaya Jangger yang mirip dengan di Jawa.

Well, akhirnya penulis memahami bahwa antara Sasak dan Jawa, meski dipisah oleh sebuah pulau Bali, tak membuat rentang budaya diantara keduanya terlalu lebar. Lombok masih memiliki pengaruh peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit zaman dahulu. Pun juga banyak anak-anak muda dari Lombok yang kuliah di Jawa, khususnya di Universitas Gadjah Mada, dan di daerah-daerah Jawa lainnya. Karena kita satu, Indonesia. Dan antara Sasak dan Jawa, hanya dapat dibingkai dalam satu kesatuan bernama Nusantara. Membingkai Nusantara.

Sumber: punyaridwan

Minggu, 04 Desember 2016

Ragam Hias Tenun Daerah NTB


Pada zaman dahulu daerah Nusa Tenggara Barat terdapat beberapa kerajaan kecil di Pulau Lombok dan Kesultanan Sumbawa di Pulau Sumbawa bagian Barat dan Kesultanan Bima di Pulau Sumbawa bagian Timur.

Sebelum Islam menyebar kedaerah ini, penduduk menganut kepercayaan anisme dan dinamisme, dan setelah abad ke 16 Agama Islam masuk dari Jawa Timur dan kira-kira abat ke 17 Bali kala penduduknya menganut Agama Hindu karena terdesak masuknya Agama Islam mendarat di Pantai Barat Pulau Lombok  dan diperkirakan pada beberapa dasawarsa membangun kerajaan Hindu, sedangkan di Pulau Sumbawa yang berbeda kesultanannya beragama Islam.

Dari sekelumit uraian tersebut diatas, faktor yang bersifat budaya diantaranya juga mempengaruhi  corak hasil tenun terutama yang dibuat oleh perajin pada masa itu sampai sekarang. demikian juga dalam hal seni ornament  tenunan terjadi perpaduan gaya dari beberapa pengaruh mancanegara dan pengaruh antar daerah maupun bersifat local menjadi corak ragam hias tenunan yang dimiliki oleh masyarakat daerah Nusa Tenggara Barat.

Seni corak ragam hias yang memiliki nama pada masa itu antara lain berbentuk goemetris , bentuk hewan seperti burung merak, katak, cecak ,kuda,   dan lain sebagainya.

Corak Tenunan daerah Nusa Tenggara Barat yang memilikin  sangat kaya dengan motif yang indah dan mempunyai ciri khas tersendiri seperti tenunan di Pulau Lombok yang terkenal dengan motif “ Subhanale “Konon seorang penenun saat itu merasa puas dengan hasil tenunannya serta merta mengucapkan kalimah “ Subhanallah “ artinya Maha Suci Allah ( Tuhan Yang Mahaesa ) , akibat dipengaruhi ucapannya dan  serta merta mengucapkan kalimah tersebut suatu ungkapan kata yang menggumkan Allah. Sedangkan tenunan di Pulau Sumbawa dengan motif “ Kre Alang “  Kabupaten Dompu ciri khas motif “ PA’A “ dan Kabuapten Bima dengan memiliki ciri khas motif : Nggoli “ sedangkan untuk tenunan ATBM ( Alat Tenun Bukan Mesin ), motif dan corak beragam mengikuti perpaduan geonometris , flora dan fauna yang terdapat didaerah Nusa Tenggara Barat

Teknik Menenun:
Dari corak  dan bentuk kain yang dihasilkan oleh perajin tenun didaerah Nusa Tenggara Barat dapat digolongkan tenun pelekat, tenun songket, dan tenun ikat.
Tenun Pelekat, dasar dari teknik tenun pelekat yaitu menyilangkan kedua benang lungsi dan benang pakan disesuaikan dengan pola hias yang dikehendaki. Vareasi bermacam-macam benang diatur menurut banyaknya hiasan yang diperlukan, banyak atau sedikitnya penggunaan warna-warna tertentu. Pada umumnya benang yang akan ditenun sebelumnya sudah dilakukan pencelupan ( berwarna sesuai yang dikehendaki ). Biasanya tenunan teknik ini menghasilkan sarung , menurut istilah Bima kain sarung bermotif kotak-kotak besar disebut tembe lomba, sedangkan dengan corak yang motifnya kotak-kotak kecil disebut Bali mpida. Kain tenunan plekat ini dilihat dari corak tenunan hampir sama atau menyerupai corak tenunan dari Sulawesi Selatan, Bugis. Persamaan ini akibat dari pengeruh kerajaan pada daerah yang menghasilkan tenun corak tersebut. Salah satu ciri kain tenun Sumbawa yaitu kotak-kotak kecil. Kalau membuat dengan korak-kotak besar disebut tambe Goa, yaitu artinya tambe artinya kain sarung, sedangkan Goa maksudnya kerajaan goa di Sulawesi Selatan.  Jadi yang dimaksud corak kain sarung yang berasal dari Sulawesi Selatan.


Tenun Songket,  Songket adalah suatu teknik atau cara memebrikan hiasan pada kain tenunan. Songket sendiri berasal dari “ Sungkit “ yang artinya mengangkat beberapa helai benang lungsi dengan lidi sehingga terjadi lubang-lubang kemudian dapat dimasukan benang pakan dari benang emas atau perak secara berulang-ulang. Biasanya pola membuat songket  dilakukan dengan cara menghitung banyaknya benang lungsi  yang akan diangkat.

Pada umumnya songketan merupakan hiasan tambahan sebagai pengisi bidang , baik bagian tengah atau hiasan pinggir dari kain tenunan. Ragam hiasnya dapat berupa ceplok bunga atau unsure flora, fauna bahkan motif hias manusia juga digunakan. Sebagai hiasan pinggir kain tenunan sering dipakai motif hias tumpal  dan pucuk rebung , meader, kait dan sebagainya.

Tenunan songket banyak dihasilkan oleh sentra tenun di daerah di daerah Kab. Lombok Tengah, Sumbawa , Bima dan Dompu.

Tenun Ikat , pola hiasan yang dibuat diikat dengan serat tumbuh-tumbuhan atau raffia untuk dapat menghambat pewarna masuk pada warna yang tidak diinginkan. Proses ini dilakukan berulang-ulang menurut keperluan. Pada umumnya proses ini dilakukan pada pertenunan yang lebih cepat pengerjaan bila disbanding dengan tenunan gedogan yang disebut Tenun IKat atau ATBM ( Alat Tenun Bukan Mesin ). Jenis tenunan ini hanya benang pakan atau lungsinya saja yang diikat yang disebut ikat tunggal. Sedangkan jika benang pakan dan lungsinya keduanya diikat disebut ikat berganda. Hasil pertenunan ini digunakan sebagai sarung, bahan pakaian , sepri, gorden dan badcover dan lain-lain

Kain tenunan daerah Nusa Tenggara Barat banyak menggunakan corak flora, fauna, mnusia , bentuk –bentuk geometris dan juga bentuk-bentuk tumpal dan mender. Jika diperhatikan baik dari segi penenunan dan penggunaan warna tenunan memiliki kekhasan sendiri, penerapan motif biasanya disesuaikan dengan fungsinya. Kain tenun yang dibuat khusus untuk tujuan kelengkapan upacara, ragam hias akan berbeda dengan kain tenun yang dibuat untuk menghias diri tujuan semata. Untuk jenis  kain tenun yang dibuat untuk kelengkapan upacara biasanya motif dan warna memiliki arti lambang simbolis, karena disini diharapkan tuahnya atau akan mendatangkan kebaikan-kebaikan tersendiri bagi pemakainya.

Berbagai macam motif kain tenun
Motif Subhanalla, Pada mulanya yang dinamakan Motif Subhanalla adalah motif geometris segi enam, didalamnya diberi isian atu dekorasi berbagai bentuk bunga seperti bunga remawa, kenanga, tanjung, warna dasar kain merah atau hitam bergaris-garis goenometris warna kuning. Dan motif Subhanalla banyak ragamnya . Penggunaan biasanya digunakan oleh kaum pria dan wanita untuk pakaian acara pesta atau upacara adat.

Motif Serat Penginang, Dalam bahasa Sasak “ Serat Penginang “ yang berarti  tempat menginang ( Makan Sirih ) . bentuk motif corak ini menggambarkan kotak-kotak segi empat dan diberikan hisan motif binatang, tepak dara dan garis silang menyilang dapat digunakan oleh pria dn wanita dalam upacara adat.

Motif Ragi Genep, Ragi adalah ungkapan dalam bahasa Sasak berarti syarat, tata cara “ Genep “ berarti cukup. Makna ungkapan ini ialah orang yang hendak berpergian sebaiknya berpakaian harus memenuhi syarat ( tata cara/norma) yang berlaku di masyarakat dan biasa dipakai sarung dan dapat dipakai sehari-hari baik   oleh pria atau  wanita. Pria untuk dodot. Wanita sebagai Selendang.

Motif Bintang Empat, Corak kotak-kotak warna merah dan hijau muda atau garis-garis mendatar dengan warna merah dan hitam. Penggambaran bentuk bintang empat menyerupai bunga ceplok. Istilah bintang empat berhubungan dengan arah mata angin yang diambil sebagai inpirasi keluarnya bintang timur pada pagi hari pertanda bahwa fajar segera tiba.
Kain bintang Empat dan Ragi Genep merupakan pasangan kain yang harus dipersiapkan bgi perempuan yang mau menikah untuk dibawa sebagai hadiah sang suami.

Motif Keker, Motif Keker menggambarkan kedamaian dalam memadu kasih bernaun di bawah pohon sebagai motif dasar benang katun dan berkembang menjadi masrized dan benang sutra dan diberikan motif berbahan benang emas atau perak.Penggunaannya untuk pakaian untuk pesta.

Motif Wayang, Ada beberapa bentuk ragam hias Wayang, pada prinsifnya wayang selalu digambarkan berpasang-pasangan diselingi atau diapit oleh paying atau pohon hayat, makna dari corak ini bahwa manusia tidak bisa hidup secara individu sehingga memerlukan bantuan orang lain untuk bermusyawarah dibawah naungan paying agung , pohon hayat adalah lambang kehidupan.

Kain dengan motif ini digunakan untuk pesta atau upacara adat baik laki-laki atau perempuan
Motif Panah, Ragam hias Panah, motif ini melambangkan untuk bercermin sifat jujur seperti anak panah yang jalannya meluncur lurus dengan geometris dasar warna terang dengan dengan motif anak panah.

Kain motif ini biasanya dikenakan pada kaum pria pada acara adat nyongolan
Motif Bintang Romawe, Ragam hias Remwa berupa corak kotak-kotak yang diciptakan dengan menenun lunsi dan pakan yang warnanya berbeda . Didalam kotak-kotak tersebut diberikan hiasan motif kembang  remawa mekar, biasanya dipadukan dengan motif kupu-kupu. Kain motif ini biasanya dikenakan para gadis-gadis di Pulau Lombok.

Motif Bulan Berkurung, Ragam hias Bulan Berkurung dirajut dengan geonometris segi enam dengan assesoris bintang berjumlah enam dengan dasar warna yang cerah divareasi  motif lambe dan pucuk rebung.
Kain motif ini biasanya dikenakan pada wanita atau pria pada bulan madu sebagai sarung
Motif Bulan Bergantung, Ragam hias Bulan Bergantung dilingkaran matahari dihiasi dengan bintang-bintang dan vareasi dengan kembang dan dibawah diberikan vareasi lambed an pucuk rebung.

Kain motif ini biasanya dikenakan pada wanita atau pria pada acara adat
Motif Nanas, motif ini digunakan sebagai bahan pakaian atau sarung .
Kain motif ini biasanya dikenakan pada kaum pria dan wanita untuk pakaian sehari-hari.
Motif Anteng, Motif Anteng biasa digunakan untuk kain sabuk atau pengikat pinggang  kaum wanita  yang penggunaannya untuk pakaian sehari-hari atau upacara Nyongkol ( Acara berkunjung mempelai laki-laki keluarga mempelai perempuan ). Motif Anteng coraknya jalur-jalur lurus membujur searah dengan benang lungsinya berwarna kuning, hijau dan lainnya dan kedua ujungnya berumbai.

Motif Brut, Kain Brut pada masa lalu dibuat dari benang pintalan butan tangan ( bahan dari kapas )  yang berstektur  agak kasar, biasanya dibuat dengan motif kotak-kotak dan dipakai untuk selimut. Sedangkan kain “ Brut “ Polos tanpa motif biasanya untuk kain kapan orang meninggal sampai saat ini.

Motif Pucuk Rebung, Pucuk rebong dalam bahasa Sasak adalah ujung anak pohon bambu. Jenis kain tersebut mempunyai corak ujung anak pohon bambu, bahan yang digunakan dari benang fibre dengan warna dasar cerah dan beraneka ragam serta corak pucuk bambu berwarna disesuaikan dan warnanya lebih menonjol . Kain tersebut diperuntukan untuk kaum wanita digunakan untuk pakaian upacara adat.

Motif Kre Alang, Kain Kre Alang merupakan tenunan songket  Motif Khas daerah Sumbawa, bahan yang digunakan benang katun yang dipadukan dengan benang emas dan perak sebagai motif yang dimodifikasi kembang sebagai corak  digunakan pada upacara adat.

Motif Nggoli, Kain Nggoli berupa kain sarung , penggunaan biasanya dipakai unuk pakaian sehari-hari masyarakat bima dan mempunyai ciri khas , selain masyarakat Bima kain Nggoli dipakai untuk sarung juga untuk menutup muka yang biasanya disebut dengn Rimpu (cadar) sebagai upaya mengurangi rasa panas dari terik sinar matahari. Sarung Nggoli mempunyai warna yang cerah-cerah dn dipakai oleh wanita maupun pria
Beberapa motif tenun bima dan dompu.

Berbagai ragam motif lain dari Produk Kabupaten,Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu sebagai berikut : Motif Kaswari,    Renda, Kapikeu, Nggusu Waru, Samo’bo, Garuda Kepala Dua, Pa’a dan masih banyak motif lainnya  dan kreasi motif tersebut merupakan motif modifikasi atau perkembangan sesuai permintaan pemesan dari tenunan yang sudah ada . Biasanya motif-motif tersebut digunakan untuk bahan pakaian bagi wanita dan pria.

Sumber: disperindag

Sabtu, 03 Desember 2016

Jangan ke Lombok! Nanti gak Mau Pulang


Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat salah satu destinasi unggulan pariwisata bahari di Indonesia.Hal ini didukung oleh kondisi geografis, potensi sumberdaya dan keindahan alam serta ragam budaya yang unik. Kabupaten Lombok Barat memiliki twenty three pulau kecil dan sebagian besar merupakan pulau berdataran rendah dengan pantai berpasir putih nan indah. Gili Lontar berada pada gugusan pulau-pulau kecil yang secaraadministratif masuk wilayah Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Gili Lontar merupakan pulau karang
yang dikelilingi pantai pasir putih dengan luas region 3, 3 years ago Hektar.

Gili Lontar dan Kabupaten Lombok Barat beriklim tropis dengan curah hujan tidak merata dimana wilayah bagian tengah pada umumnya curah hujan cukup tinggi dibandingkan bagian wilayah utara dan selatan.

Gili Lontar merupakan pulau yang tidak berpenduduk dan berada di perairan Gili Sekotong. Jika dilihat dari udara, Gili Lontar berbentuk oblong hampir sempurna,dan tampak seperti donat atau seperti piring besar dengan sayuran di atasnya dengan hamparan pasir pantai berwarna putih dan perairan merah muda.

Tidak terdapat sarana prasarana seperti dermaga maupun akses jalan permanen/setapak.

Secara administrasi, Gili Lontar terletak di wilayah Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kondisi Ekosistem Gili Lontar ditumbuhi vegetasi yang cukup lebat dan tebal yang didominasi oleh pohon resede (kleresede), adapun di tengah pulau terdapat ruang terbuka yang dipenuhi oleh ilalang dan rumput hijau subur. Gili Lontar mempunyai keindahan panorama alam bawah laut dan daratan.
Perairan di sekitar Gili Lontar yang bersih dan jernih serta pantai berpasir putih kemerahan yang lembut dan menawan sangat cocok untuk berbagai aktivitas rekreasi. Di pulau ini wisatawan dapat berenang, berjemur (sun bathing), parasailing, scuba diving, olahraga air flow (watersport), jetsky, banana fishing boat, paralayang, memancing, dan sebagainya.

sumber: lomboq99

Kamis, 01 Desember 2016

PENGARAHAN RUTIN EVALUASI OLEH KEPALA KANTOR PERTANAHAN KOTA MATARAM


Pada hari Selasa tanggal 21 Oktober 2014, Kepala Kantor Pertanahan Kota Mataram Bapak Wasis Suntoro, A.Ptnh, MH mengadakan pertemuan dan pengarahan rutin yang dihadiri oleh seluruh pejabat struktural dan karyawan/karyawati pada Kantor Pertanahan Kota Mataram guna evaluasi seluruh kegiatan di lingkungan Kantor Pertanahan Kota Mataram yang mana pengarahan ini diadakan setiap hari Selasa minggu ke 3 setiap bulannya.

Dalam pengarahan beliau yang dilaksanakan setelah apel pagi ini, Bapak Wasis Suntoro, A.Ptnh, MH menyampaikan hasil pengarahan Bapak Deputi Bidang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum (Deputi IV) Badan Pertanahan Nasional BPN RI Bapak Prof. Dr. Budi Mulyanto, M. Sc di Kantor Wilayah BPN Provinsi NTB mengenai evaluasi kinerja melalui SKMPP yang mana SKMPP untuk Provinsi NTB pada umumnya masih mendapatkan warna merah, namun khusus untuk Kantor Pertanahan Kota Mataram satu-satunya Kantor Pertanahan yang mendapatkan warna Biru untuk laporan SKMPP di Provinsi Nusa Tenggara Barat, maka sebab itu Bapak Kepala Kantor Pertanahan Kota Mataram Bapak Wasis Suntoro, A. Ptnh., M.H menyampaikan rasa terimakasih beliau kepada seluruh jajaran Kantor Pertanahan Kota Mataram yang sudah melakukan yang terbaik untuk pelayanan kepada masyarakat, beliau juga berharap agar tetap menjaga koordinasi, kekompakan, keakraban dan kooperatif yang sudah terjalin selama ini dan berharap dapat terus berjalan dan lebih ditingkatkan lagi.

Mengenai Rapport SKMPP untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat yang masih merah, Bapak Prof. Dr. Budi Mulyanto, M. Sc berharap agar Kantor Pertanahan yang masih mendapatkan rapport merah untuk segera menyelesaikan percepatan Legalisasi Asset terutama program Redistribusi dan Tanah Pertanian.

Sejalan dengan perubahan era kepemimpinan dimana sekarang Indonesia mempunyai Presiden baru yaitu Bapak H. Joko Widodo yang mana diketahui beliau mengutamakan pelayanan publik kepada masyarakat, maka Kantor Pertanahan Kota Mataram akan melaksanakan pelayanan kepada masyarakat yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Diakhir pengarahan Kepala Kantor Pertanahan Kota Mataram Bapak Wasis Suntoro, A. Ptnh., M.H juga menginformasikan kepada karyawan/karyawati Kantor Pertanahan Kota Mataram bahwa remunerasi berdasarkan informasi akan dicairkan dibulan Desember sehingga diharapkan dengan adanya remunerasi bisa meningkatkan semangat kerja dan tertib absensi elektrik, selain itu juga agar apel yang setiap pagi dan olahraga serta imtaq setiap hari jumatnya tetap diadakan seperti biasa di Kantor Pertanahan Kota Mataram sesuai dengan surat edaran Sekretaris Utama BPN RI.

Sumber: mataramkota